(Republika) Menuju Swasembada Garam Logo Download PDF

(Republika) Menuju Swasembada Garam

 

Republika - Sebagai negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia sepatutnya dapat swasembada garam. Namun kenyataannya, Indonesia masih sangat bergantung dengan garam impor. Pada 2016, Indonesia mengimpor sekitar tiga juta ton garam.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan volume impor pada tahun sebelumnya yang hanya 2,1 juta ton. Sementara, kebutuhan garam nasional saat ini tercatat 4,3 juta ton per tahun.
 
Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mencari cara agar Indonesia bisa swasembada garam. Salah satu program yang sedang digencarkan adalah pembentukan gudang garam. Langkah terbaru, KKP meresmikan gudang garam nasional berkapasitas 3.500 ton di Desa Raci, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, akhir Januari lalu.
 
Fasilitas tersebut memungkinkan petani menyimpan garam mereka yang berlebih di gudang nasional saat musim panen raya. Garam yang disimpan di gudang baru akan dijual setelah lewat musim panen, sehingga stok tetap terjaga dan fluktuasi harga dapat diredam.
 
Keberadaan gudang sangat dibutuhkan untuk produksi garam. Maklum, berhasil atau tidaknya panen garam amat dipengaruhi oleh cuaca. Sinar matahari dan cuaca panas menentukan kualitas garam yang dihasilkan para petani.
 
Tahun lalu, saat terjadi anomali cuaca La Nina yang memicu turunnya hujan dengan intensitas tinggi di musim kemarau, produksi garam rakyat merosot tajam. Petani hanya mampu memproduksi 144 ribu ton garam, atau hanya 4,6 persen dari target tiga juta ton yang ditetapkan.
 
Pemerintah meyakini sistem pergudangan dapat menjadi salah satu solusi atas defisitnya produksi garam nasional.
 
Dirjen Pengelolaan Ruang Laut KKP, Brahmantya Satyamurti Purwadi mengatakan, gudang nasional tersebut tak hanya menjadi tempat penyimpanan garam yang dihasilkan para petani. Gudang juga dapat memberikan resi pada petani dengan sistem tunda bayar.
 
Dengan resi tersebut, petani dapat mengajukan kredit ke bank untuk mendapatpinjaman modal. "Dengan adanya fasilitas ini saya harap petani dapat terus berproduksi dan mendukung swasembada garam nasional," ujarnya.
 
Gudang garam nasional di Pati berdiri di atas lahan milik desa seluas 600 ribu meter. Pembangunan gudang tersebut telah menelan dana Rp 1,7 miliar. Rencananya, di lokasi berdirinya gudang juga akan dibangun pabrik garam.
 
Sehingga, lokasi tersebut akan menjadi kawasan yang terintegrasi sebagai Sentra Garam Kabupaten Pati. Gudang tersebut dikelola oleh Koperasi Induk Mutiara Laut Mandiri. Koperasi induk tersebut akan bekerja sama dengan koperasi-koperasi kecil yang terdapat di 22 desa penghasil garam di Pati.
 
Koperasi desa itulah yang akan mengambil garam hasil produksi petani untuk disimpan di gudang garam nasional. Brahmantya menambahkan, KKP telah melakukan koordinasi dengan PT Garam (Persero).
 
PT Garam akan memberikan pendampingan pada pengelolaan gudang nasional. Perusahaan milik pemerintah itu juga sepakat untuk meningkatkan produksi dan mengutamakan garam rakyat sehingga dapat menekan angka impor.
 
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati Sujono menambahkan, gudang nasional difokuskan menyimpan garam dengan kualitas produksi nomor satu. Saat ini, Kabupaten Pati tercatat memiliki 6.781 petani garam dengan 2.833,11 hektare lahan tambak garam.
 
Namun, dari jumlah tersebut, baru 709 hektare atau 25 persen lahan yang sudah menggunakan teknologi geomembran. Teknologi geomembran digunakan untuk menghasilkan garam dengan kualitas premium.
 
Petani yang masih menggunakan metode tradisional dalam memproduksi garam umumnya hanya mampu menghasilkan 110 ton garam per hektare per musim.
 
Sementara, dengan bantuan teknologi geomembran, petani dapat memproduksi hingga 135 ton garam per hektare per musim. "Selisihnya antara 8-10 persen," kata Sujono.
 
Karena itu, Sujono berharap berdirinya gudang garam nasional Pati dapat mendorong para petani meningkatkan kuantitas dan kualitas garam yang mereka produksi.
 
Pada 2015, produksi garam di Kabupaten Pati mencapai 381.704 ton. Namun, pada 2016 saat terjadi anomali cuaca, produksi garam Pati merosot tajam ke angka 16.800 ton. Sujono yakin, jika cuaca mendukung sepanjang 2017, produksi garam akan kembali meningkat.
 
Pemerintah menargetkan produksi garam nasional sebanyak 3,2 juta ton pada 2017. Jumlah tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan target tahun sebelumnya yang sebanyak tiga juta ton. Tahun ini, PT Garam memasang target produksi sebanyak 395 ribu ton.
 
Sekretaris Perusahaan PT Garam Hartono mengatakan, target tersebut diharapkan dapat dipenuhi oleh pegaraman di Pulau Madura sebanyak 375 ribu ton dan pegaraman di Kabupaten Kupang, NTT sebanyak 20 ribu ton.
 
Hartono menambahkan, PT Garam juga bertekad meningkatkan serapan garam rakyat sebanyak 135 ribu ton. Jumlah itu meningkat dibandingkan target tahun 2016 yang hanya 125 ribu ton. ed: satria kartika yudha
[Download PDF]